Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 April 2013

LAPORAN PENDAHULUAN CA COLORECTI



 1.      KONSEP DASAR PENYAKIT
1.1  DEFINISI
Ca Colorectti (kanker kolorektal) atau kanker internal, lokasi yang paling umum atau area restosigmoid, rectum dan serum. Insiden puncak kanker kolorektal terjadi pada pasien berusia antara 50 – 60 tahun. Kanker kolon bisa dikaitkan dengan ulteractive colitis, granutama, adenoma dengan polip (KMB 2)
1.2  ETIOLOGI
1.2.1        Diet
Pada bangsa barat angka kejadian kanker tinggi dikarenakan kebiasaan makan makanan yang berlemak dan protein hewani, tidak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat, misalnya adalah sayur-sayuran. Karena makanan berserat bisa mencegah terkena kanker kolorectal.
Beberapa kelompok menyerankan diet yang mengandung sedikit lemak hewan dan tinggi sayuran dan buah-buahan
Adapun makanan yang harus dihindari adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:a.       Daging merah
b.      Lemak hewan
c.       Makanan berlemak
d.      Daging dan ikan goreng atau panggang
Sedangkan makanan yang dapat dikonsumsi dengan baik adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:a.       Buah-buahan dan sayur-sayuran, khususnya Craciferous Vegetables dari golongan kubis (misalnya: brokoli)
b.      Butir padi yang utuh.
c.       Cairan yang cukup terutama air.
1.2.2        Kelainan di kolon
a.       Adenoma di kolon (tumor jinak yang sering terdapat di kolon)
b.      Kolitis ulserativa (mempunyai resiko besar untuk terjadinya karsinoma kolon)
1.2.3        Herediter
Hasil penelitian menunukkan anak yang berasal dari orang tua yang menderita kanker kolorectal mempunyai frekuensi 3,5 kali lebih banyak daripada anak-anak yang orang tuanya sehat.1.3  TANDA DAN GEJALA
  1. Perubahan baru dan gejala:
  • Diare dan konstipasi.
  • Perubahan dalam frekuensi, waktu dan ukuran.
  1. Gajala tergantung pada lokasi tumor:
  • Kolon kanan
-          Anemia dan perdarahan saluran gastrointestinal
-          Nyeri abdomen
-          Penurunan berat badan
-          Kelamahan dan mual
  • Kolon sigmoid
-          Obstruksi
-          Perdarahan per rektum
  • Kolon kiri
-          Mukus dalam feses
-          Mual dan muntah
-          Konstipasi
-          Penurunan dalam jumlah feses
-          Darah bercampur dalam feses
-          Nyeri abdominal intermitten
  • Rectum
-          Perdarahan per rectum
-          Diare mucus
-          Perasaan evakuasi yang tidak menyeluruh
-          Tenesmus
-          Nyeri abdominal dan punggung bawah
1.4  PATOFISIOLOGI
Pada perubahan patologi, tumor dapat terjadi di tempat yang berada di dalam kolon mengikuti kira-kira pada bagian berikut ini (Sthrock, 1991):
  1. 20 % pada caecum dan colon assenden
  1. 10 % pada transfersum colon
  1. 15 % pada desending colon
  1. 20 % pada sigmoid colon
  1. 10 % pada rectum
Karsinoma kolorectal sebagian besar menghasilkan adenomatus polip. Biasanya tumor ini tumbuh tidak terdeteksi sampai gejala-gejala muncul secara perlahan dan tampak membahayakan. Penyakit ini penyebab dalam beberapa metode. Tumor mungkin menyebar dalam beberapa tempat tertentu pada lapisan dalam di perut, mencapai serosa dan mesluterik fat. Kemudian tumor mulai melekat pada organ yang ada di sekitarnya, kemudian meluas ke dalam lumen pada usus besar atau menyebar ke limpa atau pada system sirkulasi. System sirkulasi ini langsung masuk dari tumor utama melewati pembuluh darah pada usus besar melalui limpa, setelah sel tumor masuk pada system sirkulasi, biasanya sel bergerak menuju liver. Tempat yang kedua adalah tempat yang jauh, kemudian metastase ke paru-paru.Adapun tempat metastase yang lainnya adalah termasuk sebagai berikut:
  1. Kelenjar adrenalin
  1. Ginjal
  1. Kulit
  1. Tulang
  1. Otak
Penambahan untuk infeksi secara langsung dan menyebar melalui limpa dan system sirkulasi, tumor kolon juga dapat menyebar pada bagian peritoneal sebelum pembedahan tumor dilakukan. Penyebaran terjadi ketika tumor dihilangkan dan sel kanker pecah menuju rongga peritoneal.PENATALAKSANAAN
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Nilai hemoglobin dan hematokrit bisanya turun dengan indikasi anemia. Hasil tergualac positif untuk accult blood pada feses memperkuat perdarahan pada GL track. Pasien harus menghindari makan daging, makanan yang mengandung peroksida (tanaman lobak dan gula bit) aspirin dan vitamin C untuk 48 jam sebelum diberikan feses specimen. Dua contoh semple feses yang terpisah ditest selama 3 hari berurut-urut. Hasil yang negative sama tidak menyimpang kemungkina terhadap Ca Kolorectal. Karsinoma embrionik antigen (CEA) mungkin dihubungkan dengan Ca Kolorectal, bagaimanapun hal ini juga tidak spesifik dengan penyakit dan mungkin berhubungan dengan jinak atau ganasnya penyakit.
  1. Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan dengan enema barium mungkin dapat memperjelas keadaan tumor dan mengidentifikasikan letaknya. Test ini menggambarkan adanya kebuntuan pada isi perut dimana terjadi pengurangan ukuran tumor pada lumen. Lubang kecil kemungkinan tidak teridentifikasi dengan test ini. Computer tomografi (CT) membantu memperjelas adanya massa dan bagian luar dari penyakit. Chest X – ray dan liver scan mungkin dapat menemukan tempat yang jauh yang sudah metastasis.
  1. Pemeriksaan Diagnosa Lainnya
Tim medis biasanya melakukan sigmoidscopy dan colonscopy untuk mengidentifikasi tumor. Deteksi dini adalah cara untuk mengontrol Ca Kolorectal dan keterlambatan dalam mencoba perawatan dapat mengurangi kesempatan untuk bertahan hidup dan menguatkan kekwatiran klien dan keluarga klien. Proses diagnosa secara umum meluas dan dapat menyebabkan kebosanan dan menumbuhkan kegelisahan pada pasien dan keluarga pasien. Perawat membolehkan klien untuk bertanya dan mengungkapkan perasaannya selama proses ini.       2.      KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
2.1   PENGKAJIAN
  1. Aktifitas dan istirahat
Gejala:
-          Kelemahan dan atau keletihan
-          Perubahan pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya factor yang mempengaruhi tidur.
Misalnya adalah nyeri, ansietas, berkeringat malam.-          Keterbatasan partisipasi dalam hobi dan latihan.
-          Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan dan tingkat stress yang tinggi.
  1. Sistem sirkulasi
Gejala              : palpitasi, nyeri dada pada saat pergerakan kerja.Kebiasaan        : perubahan pada tekanan darah
  1. Integritas Ego
Gejala:-          Faktor stress (keuangan, pekerjaan, peruabahan peran) dan cara mengatasi stress (misalnya merokok, minum alcohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spiritual)
-          Masalah tentang perubahan dalam penampilan, misalnya alopesia, lesi cacat pembedahan.
-          Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bermakna, rasa bersalah, kehilangan control, depresi.
Tanda: Menyangkal, menarik diri dan marah.
  1. Eliminasi
Gejala;-          Perubahan pola defekasi (misalnya adanya darah pada feses, nyeri pada saat defekasi)
-          Perubahan eliminasi urinarius (misalnya nyeri, rasa terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih).
Tanda: perubahan pada bising usus dan adanya distensi abdomen.
  1. Makanan/cairan
Gejala:-          Kebisaan diet buruk (misalnya diet rendah serat, tinggi lemak, aditif, dan adanya bahan pengawet).
-          Anoreksia, mual dan muntah.
-          Intoleransi makanan.
-          Peruabahn pada berat badan, penurunan berat badan yang hebat, dan berkurangnya masa otot.
Tanda: perubahan pada kelembaban / turgor kulit.
  1. Neurosensori
Gejala: Pusing dan sinkope.
  1. Nyeri/kenyamanan
Gejala:     Tidak ada nyeri atau derajat bervariasi, misalnya ketidak nyamanan
ringan sampai yang berat (dihubungkan dengan proses penyakit)
  1. Pernafasan
Gejala:  
-          Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok).
-          Pemajanan abses
  1. Keamanan
Gejala:-          Pemajanan pada kimia toksik dan karsinogen.
-          Pemajanan terhadap matahari yang lama / berlebihan.
 Tanda:-          Demam
-          Rasa sakit atau ulserasi
  1. Seksualitas
Gejala:-          Masalah seksual, misalnya dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan.
-          Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun.
-          Multigravida, pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini, herpes genital.
  1. Interaksi social
Gejala:-          Ketidak adekuatan / kelemahan system pendukung.
-          Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah)
-          Dukungan atau bantuan.
-          Masalah tentang fungsi dan tanggungjawab peran.
 2.2  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Konstipasi yang berhubungan dengan lesi obstruktif.
2.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi.
3.      Resiko tinggi terhadap kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan seringnya muntah dan dehidrasi.
4.      Gangguan ansietas yang berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani dan diagnosa kanker.
5.      Kurangnya pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah pulang dari perawatan di rumah sakit.
  2.3  INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Konstipasi yang berhubungan dengan lesi obstruktif.
Intervensinya adalah:a.       Kaji bising usus dan catat gerakan usus termasuk frekuensi BAB, konsistensi feses terutama selama 3 – 5 hari pertama dari terapi.
Rasional: Mendefinisikan masalah konstipasi adalah salah satu manifestasi termudah dari neurotoksisitas.
b.      Berikan masukan cairan adekuat dengan cara peningkatan serat.
Rasional: Dapat menurunkan potensial terhadap konstipasi dengan memperbaiki konsistensi feses dan merangsang peristaltic dapat mencegah dehidrasi (diare).
c.       Berikan laksatif, pelunak feses, dan enema sesuai indikasi.
Rasional: Penggunaan profilaktik dapat mencegah komplikasi lanjut pada beberapa pasien (misalnya: yang menerima alkaloid vinca dengan pola defekasi buruk sebelum pengobatan atau penurunan mobilitas).
2.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi.
Intervensinya adalah:a.       Tentukan riwayat nyeri, misalnya: lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (skala 1 – 10) dan tindakan penghilangan yang digunakan.
Rasional: informasi dapat memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan / keefektifan intervensi.
b.      Berikan tindakan kenyamanan dasar (misalnya: reposisi, gosokan punggung) dan aktivitas hiburan (misalnya: music dan televisi).
Rasional: meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian klien.
c.       Evaluasi penghilangan / control nilai aturan pengobatan bila perlu.
Rasional: tujuannya adala control nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS.
3.      Resiko tinggi terhadap kurangnya volume cairan yang berhubungan dengan seringnya muntah dan dehidrasi.
Intervensinya adalah:a.       Pantau masukan, haluaran dan batasi cairan dan makanan per oral untuk mencegah adanya muntah.
Rasional: keseimbangan cairan negative terus-menerus menurunkan haluaran renal dan konsentrasi urine menunjukkan terjadinya dehidrasi dan perlunya peningkatan penggantian cairan.
b.      Observasi turgor kulit dan kelembaban membrane mukosa, perhatikan keluhan pada pasien.
Rasional: indicator tidak langsung dari status hidrasi / derajat kekurangan.
c.       Dorong peningkatan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi individu.
Rasional: membantu dalam memelihara kebutuhan cairan dan menurunkan resiko efek samping yang membahayakan.
d.      Timbang berat badan sesuai indikasi.
Rasional: pengukuran sensitive terhadap fluktuasi keseimbangan cairan.
4.      Gangguan ansietas yang berhubungan dengan pembedahan yang akan dijalani dan diagnosa kanker.
Intervensinya adalah:a.       Dorong pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Rasional: memberikan kesempatan untuk memeriksa rasa takut realistis serta kesalahan konsep tentang diagnosis.
b.      Pertahankan kontak yang sering dengan pasien. Bicara dengan menyentuh pasien bila tepat.
Rasional: memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak, berikan respek dan penerimaan individu, mengembangkan kepercayaan.
c.       Tingkatkan rasa dan lingkungan yang tenang.
Rasional: memudahkan istirahat, menghemat energi dan meningkatkan kemampuan koping.
d.      Perhatikan koping tidak efektif, misalnya interaksi social buruk, tidak berdaya, fungsi menyerah setiap hari dan kepuasan sumber.
Rasional: mengidentifikasi masalah individu dan memberikan dukungan pada pasien / orang terdekat dalam menggunakan ketampilan koping yang efektif.
5.      Kurangnya pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah pulang dari perawatan di rumah sakit.
Intervensinya adalah:a.       Temukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatannya. Tanyakan tentang pengalaman pasien sendiri / sebelumnya atau pengalaman orang lain yang mempunyai atau pernah mengidap kanker.
Rasional: membantu mengidentifikasi ide, dikap, rasa takut, kesalahan persepsi dan kesenjangan pengetahuan tentang kanker.
b.      Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara yang nyata tetapi sensitive. Jawab pertanyaan secara khusus, tetapi tidak memaksakan secara detail tentang hal yang tidak perlu.
Rasional: membantu penilaian diagnosa kanker, memberikan informasi yang diperlukan selama waktu menyerapnya.
c.       Minta pasien untuk umpan balik verbal dan memperbaiki kesalahan konsep tentang tipe kanker individu dan pengobatannya.
Rasional: kesalahan konsep tentang kanker lebih mangganggu dari pada kenyataan dan mempengaruhi pengobatan / penurunan penyembuhan.3.      LITERATUR
Brunner & Suddart. 2000. Keperawatan medical bedah Vol. 2. Jakarta: EGC.Doengoes, Maryllin. 2001. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC.Mansyoer Arif, dkk. 2001. Kapita selekta kedokteran Jilid 1 Edisi ke tiga. Jakarta: Media Aesculapius.   
Add caption

 

Kamis, 05 Juli 2012

Head Injury


 
1.PENGERTIAN
Cedera kepala yaitu adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi – descelarasi) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

2.ETIOLOGI
-    Kecelakaan lalu lintas
-    Perkelahian
-    Jatuh
-    Cedera olahraga
-    Cedera kepala terbuka sering disebabkan oleh peluru atau pisau.

3.Tanda dan Gejala

a.      Epidural hematoma

Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang – cabang arteri meningeal media yang terdapat diantara duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena sangat berbahaya .Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.
Gejala – gejalanya :
1). Penurunan tingkat kesadaran
2). Nyeri kepala
3). Muntah
4). Hemiparese
5). Dilatasi pupil ipsilateral
6). Pernapasan cepat dalam kemudian dangkal ( reguler )
7). Penurunan nadi
8). Peningkatan suhu

b.      Subdural hematoma

Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut dapat terjadi dalam 48 jam – 2 hari, 2 minggu atau beberapa bulan.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Bingung
3). Mengantuk
4). Menarik diri
5). Berfikir lambat
6). Kejang
7). Udem pupil.

c.       Perdarahan intra serebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler dan vena.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Penurunan kesadaran
3). Komplikasi pernapasan
4). Hemiplegi kontra lateral
5). Dilatasi pupil
6). Perubahan tanda – tanda vital

d.      Perdarahan Subarachnoid

Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.
Gejala – gejalanya :
1). Nyeri kepala
2). Penurunan kesadaran
3). Hemiparese
4). Dilatasi pupil ipsilateral
5). Kaku kuduk.


Benigna Prostat Hiperplasia


1.     Pengertian
BPH ( Benigna Prostat Hiperplasia) adalah pembesaran kelenjar prostat nonkanker. BPH dapat menyebabkan penekanan pada uretra di tempat uretra menembus prostat sehingga berkemih menjadi sulit

2.      Etoilogi
Etiologi BPH belum jelas, mungkin berkaitan dengan ketidakseimbangan antara estrogen dan progesteron di prostat.

3.      Manifestasi klinis
Biasanay gejala- gejala prostat jinak, dikenal sebagai Lower Urinary Track Symtoms ( LUTS ) dibedskan menjadi gejala iritatif dan obstruktif
a.       Gejala iritatif:
·         Sering miksi
·         Terbangun untuk miksi pada malam hari ( Nokturia )
·         Persaan ingin miksi yang sangat mendesak ( Urgensi )
·         Nyeri pada miksi ( Disuria)
b.      Gejala Obstruktif
·         Pancaran urin melemah
·         Rasa tidak puas sehabis miksi
·         Ketika mau miksi harus menunggu lama (Hesitancy)
·         Harus mengedan ketika miksi (straining)
·         Kencing terputus- putus (intermittency)
·         Waktu miksi memenjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena overflow

4.      Komplikasi
Seiring dengan makin banyaknya BPH, dapat terjadi obstruksi saluran kemih karena urin tidak mampu melewati prostat. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dan apabila tidak di obati, terjadi gagal ginjal


5.      Diagnosis

Untuk  menegakkan  diagnosis  BPH  dilakukan  beberapa  cara  antara  lain
a.        Anamnesa
Kumpulan  gejala  pada  BPH  dikenal  dengan  LUTS  (Lower  Urinary  Tract  Symptoms)  antara  lain:  hesitansi,  pancaran  urin  lemah,  intermittensi,  terminal  dribbling,  terasa  ada  sisa  setelah  miksi  disebut  gejala  obstruksi  dan  gejala  iritatif  dapat  berupa  urgensi,  frekuensi  serta  disuria. 
b.       Pemeriksaan  Fisik
·         Dilakukan  dengan  pemeriksaan  tekanan  darah,  nadi  dan  suhu.  Nadi  dapat  meningkat  pada  keadaan  kesakitan  pada  retensi  urin  akut,  dehidrasi  sampai  syok  pada  retensi  urin  serta  urosepsis  sampai  syok - septik.
·         Pemeriksaan  abdomen  dilakukan  dengan  tehnik  bimanual  untuk  mengetahui  adanya  hidronefrosis,  dan  pyelonefrosis.  Pada  daerah  supra  simfiser  pada  keadaan  retensi  akan  menonjol.  Saat  palpasi  terasa  adanya  ballotemen  dan  klien  akan  terasa  ingin  miksi. Perkusi  dilakukan  untuk  mengetahui  ada  tidaknya  residual  urin.
·         Penis  dan  uretra  untuk  mendeteksi  kemungkinan  stenose  meatus,  striktur  uretra,  batu  uretra,  karsinoma  maupun  fimosis.
·         Pemeriksaan  skrotum  untuk  menentukan  adanya  epididimitis
·         Rectal  touch / pemeriksaan  colok  dubur  bertujuan  untuk  menentukan  konsistensi  sistim  persarafan  unit  vesiko  uretra  dan  besarnya  prostat.  Dengan  rectal  toucher  dapat  diketahui  derajat  dari  BPH,  yaitu :
a)      Derajat  I   =  beratnya  ±  20 gram.
b)      Derajat  II  =  beratnya  antara  20 – 40  gram.
c)      Derajat  III =  beratnya  > 40  gram.
c.        Pemeriksaan  Laboratorium
·           Pemeriksaan  darah  lengkap,  faal  ginjal,  serum  elektrolit  dan  kadar  gula  digunakan  untuk  memperoleh  data  dasar  keadaan  umum  klien. 
·           Pemeriksaan  urin  lengkap  dan  kultur.
·           PSA  (Prostatik  Spesific  Antigen)  penting diperiksa  sebagai  kewaspadaan  adanya  keganasan.

d.      Pemeriksaan  Uroflowmetri
Salah  satu  gejala  dari  BPH  adalah  melemahnya  pancaran  urin.  Secara  obyektif  pancaran  urin  dapat  diperiksa  dengan  uroflowmeter  dengan  penilaian :
·            Flow  rate  maksimal  >  15 ml / dtk    =  non  obstruktif
·            Flow  rate  maksimal 10 – 15  ml / dtk =  border  line
·            Flow  rate  maksimal  <  10 ml / dtk    =  obstruktif

e.       Pemeriksaan  Imaging  dan  Rontgenologik
·        BOF  (Buik  Overzich ) :Untuk  melihat  adanya  batu  dan  metastase  pada  tulang.
·        USG  (Ultrasonografi), digunakan  untuk  memeriksa  konsistensi,  volume  dan    besar  prostat  juga  keadaan  buli – buli  termasuk  residual  urin.  Pemeriksaan  dapat  dilakukan  secara  transrektal,  transuretral  dan  supra  pubik. 
·        IVP  (Pyelografi  Intravena)
Digunakan  untuk  melihat  fungsi  exkresi  ginjal  dan  adanya  hidronefrosis. 
·      Pemeriksaan  Panendoskop
Untuk    mengetahui   keadaan  uretra  dan  buli – buli.

6.      Penatalaksanaan
a.       Observasi ( Watchfull Waiting )
Biasanay dilakukan pada pasein dengan keluhan ringan. Nasehat yang diberika ialah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat- obat dekongestan (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi dan tidak diperbolehkan minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi.
b.    Terapi medika mentosa
·      penghambat adrenerjik a: obat- obat yang sering dipakai adalah prazosin, doxazosin, afluzosin, atau yang lebih selektif a 1a (transolusin). Fungsinya untuk menurunkan tekanan pada uretra pars prostatika sehingga gangguan aliran air seni dan gejala- gejala berkurang
·      penghambat enzim 5- a – reduktase:obat yang dipakai adalah finasteride ( proscar ) dengan dosis 1,5 mg/ hari, yang berfungsi mengecilkan prostat yang mmembesar
·      Fitoterapi: Pengobatan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat
c.       Terapi bedah
Penangan untuk tiap pasien berpariasi tergantung beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi absolut untuk terapi bedah yaitu:
·         retensio urin berulang,
·         hematuria,
·         tanda penurunan fungsi ginjal,
·         ISK berulang,
·         tanda- tanda obstruksi berat, dan
·         ada batu saluran kemih
Intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi:
·      Transurethral Resection of the Prostate ( TUR P )
TURP merupakan pembedahan BPH yang paling sering dilakukan. Endoskopi dimasukkan melalui penis (uretra). Keuntungan dari TURP adalah tidak dilakukan sayatan sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi.
88% penderita yang menjalani TURP mengalami perbaikan yang berlangsung selama 10-15 tahun. Impotensi terjadi pada 13,6% penderita dan 1% penderita mengalami inkontinensia urin.

·      Transurethral Insision of the Prostate ( TUIP )
TUIP menyerupai TURP, tetapi biasanya dilakukan pada penderita yang memiliki prostat relatif kecil.
Pada jaringan prostat dibuat sebuah sayatan kecil untuk melebarkan lubang uretra dan lubang pada kandung kemih, sehingga terjadi perbaikan laju aliran air kemih dan gejala berkurang.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah perdarahan, infeksi, penyempitan uretra dan impotensi

·      Prostatektomi terbuka
Sebuah sayatan bisa dibuat di perut (melalui struktur di belakang tulang kemaluan/retropubik dan diatas tulang kemaluan/suprapubik) atau di daerah perineum (dasar panggul yang meliputi daerah skrotum sampai anus). Pendekatan melalui perineum saat ini jarangn digunakan lagi karena angka kejadian impotensi setelah pembedahan mencapai 50%.
Pembedahan ini memerlukan waktu dan biasanya penderita harus dirawat selama 5-10 hari.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah impotensi (16-32%, tergantung kepada pendekatan pembedahan) dan inkontinensia uri (kurang dari 1%).

·      Prostatektomi dengan laser

Namun pembedahan tidak mengobati penyebab BPH jadi biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8- 10 tahun kemudian.